Biaya les private membaca tidak terlalu tinggi dibandingkan les lainnya. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, jumlah penderita buta aksara di Indonesia naik menjadi 1.93%. Artinya ada sebanyak 98.7% rakyat Indonesia yang tidak mengalami buta aksara. Meskipun angkanya cukup rendah, namun Indonesia harus tetap memperbaiki kekurangan tersebut
1. Faktor Penentu Biaya Les Membaca
Tarif les private ditentukan oleh berbagai faktor berikut:
Tempat
Tempat tinggal siswa menentukan tarif les mengingat guru les harus menempuh perjalanan dan waktu untuk tiba di tempat tinggal siswa. Setiap daerah memilih tarif yang berbeda untuk les private, seperti halnya di ibukota yang rata-rata memiliki tarif tinggi. Tarif yang tinggi tersebut digunakan untuk guru bertahan hidup. Apabila kamu tinggal di kawasan ibukota pasti biaya hidupnya tinggi sehingga tarif guru juga ikut tinggi.
Pengalaman
Pengalaman mengajar guru les juga turut menjadi faktor tinggi rendahnya tarif les private. Ada banyak jenis guru private yang bisa kamu pilih, mulai dari pakar otodidak hingga guru yang dilatih dengan cara profesional. Ada pula guru yang telah bertahun-tahun wara wiri dalam dunia private sehingga tarifnya juga turut meningkat.
Kualifikasi pengalaman mereka sangat berpengaruh pada tarif khusus. Guru les private pemula tidak akan mengenakan tarif yang setara dengan guru berpengalaman 5 tahunan. Jangankan guru private, karyawan perusahaan saja bisa digaji sangat tinggi apabila pengalaman kerjanya cukup lama.
Mata Pelajaran
Mata pelajaran atau spesialisasi juga mempengaruhi tarif kursus. Seperti tarif kursus Fisika di Jakarta sebesar Rp 92.000 dalam satu kali pertemuan, berbeda dengan tarif kursus piano yang mencapai Rp 180.000 per pertemuan.
Kemampuan
Guru dengan tingkat kemampuan yang lebih tinggi tentu memiliki tarif tinggi pula. Apabila kamu mencari guru les membaca dari lulusan perguruan tinggi maka biaya les private membaca lebih tinggi dibandingkan guru les yang masih menjadi mahasiswa. Pasalnya guru les membaca dari lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan lebih tinggi karena telah lebih dulu mempelajarinya.
2. Teknik Membaca yang Efektif
Guru les membaca harus tahu teknik membaca yang efektif agar kemampuan membaca siswa meningkat.
Perkenalkan Huruf Kecil dan Besar
Pada awal pertemuan tampakkan kepada siswa deretan huruf kecil dan huruf besar. Pastikan siswa mengingat bentuk huruf yang kecil dan besar. Mengapa harus huruf kecil terlebih dahulu? dalam berbagai media baca, huruf kecil lebih banyak dibandingkan huruf besar. Jadi hal ini diharapkan mampu membuat siswa lebih mudah mengingat huruf dan membaca nantinya.
Membaca Satu Suku Kata
Hampir semua buku bacaan pemula, menampilkan bacaan satu suku kata. Hal ini akan memudahkan anak mengingat satu persatu suku kata. Sandingkan huruf konsonan dengan huruf vokal. Perintahkan anak untuk mengulanginya.
Membaca Dua Suku Kata
Setelah anak mahir membaca satu suku kata, maka lanjutkan pada dua suku kata. Pastikan guru mengatur dua suku kata yang memiliki vocal yang sama seperti ba ba, ca ca dan lainnya. Ini merupakan tahap yang harus diperhatikan dengan benar. Apabila siswa belum mampu maka jangan lanjutkan.
Membaca Tiga Suku Kata
Apabila anak sudah mengingat cara membaca dua suku kata, lalu ajarkan membaca tiga suku kata.
Membaca “Ng” dan “Ny”
Pastikan anak sudah mahir mengingat dan membaca pelajaran sebelumnya, kemudian ajarkan membaca “ng” dan “ny”.
Membaca Konsonan Mati
Ajarkan cara membaca konsonan mati pada anak seperti ma – kan; ja – mur; kur – si dan lain sebagainya. Jika sudah lancar semuanya, berikan anak satu teks paragraf untuk dibaca dengan lancar.
3. Anak Disleksia, Apakah Bisa Diajarkan Membaca?
Ada beberapa guru les membaca yang merasa kesulitan dalam mengajarkan siswanya. Fenomena ini sering disebut dengan disleksia yakni kesulitan mengenal huruf yang dialami oleh anak usia dini. Namun tidak semua anak yang mengalami kesulitan membaca mengalami disleksia.
Anak patut diduga mengalami disleksia apabila pada usia 5-6 tahun kesulitan membaca huruf fonetik seperti b,d dan p. Selain itu anak sulit mengingat kosa kata yang baru diajarkan dan sulit mengurut nama hari maupun bulan.
Disleksia juga dapat dilihat dari anak usia 7-8 tahun yang mengalami kesulitan membaca kata sederhana. Anak juga sulit membaca fonetik “ng” dan “ny”. Selain itu anak juga tidak tertarik pada buku cerita dengan gambar yang menarik.
Jadi, apakah anak disleksia bisa diajar membaca? Bisa, ada baiknya untuk memberikan kursus membaca khusus anak disleksia. Membaca bagi anak disleksia tentu berbeda dengan anak normal pada umumnya. Cara membaca dilakukan dengan pendekatan dan teknik belajar khusus. Teknik tersebut harus melibatkan berbagai panca indera. Jadi, apabila anak mengalami disleksia maka utamakan konsultasi dengan psikiater terlebih dahulu karena guru les membaca tidak dapat mengatasi hal tersebut.
Metode yang dahulu kerap digunakan agar anak segera mahir membaca adalah mengeja. Ajarkan anak mengeja agar mereka mudah mengingat bunyi huruf. Pendekatan yang digunakan ketika mengeja adalah pendekatan harfiah.
Gunakan teknik yang menyenangkan ketika memberikan les membaca kepada anak, terutama anak usia dini. Jangan terlalu dipaksakan karena dikhawatirkan otak anak menjadi mudah lelah. Ajarkan anak secara perlahan namun pasti. Oleh karena itu dibutuhkan peran yang sangat besar dari guru les membaca.
Biaya les private membaca memang tidak sebesar tarif les lainnya, tapi usaha yang dilakukan oleh guru les membaca lebih berarti dibandingkan les lainnya. Apabila anak tidak mahir membaca maka anak tidak dapat memahami pelajaran lainnya.